PENDAHULUAN
Pesawat
udara adalah salah satu jenis alat transportasi udara yang mempunyai peranan
penting dalam usaha penyediaan jasa angkutan umum diudara. Pesawat udara dari
waktu ke waktu semakin diminati para konsumennya karena pesawat udara
menyediakan jasa yang bisa digunakan setiap hari oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Peran
pemerintah dalam hal ini pihak PT. Lion Air selalu berusaha memenuhi
pelayanannya dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung kelancaran
transportasi pesawat terbang. Seiring dengan pertambahan penduduk di Indonesia
maka kebutuhan akan pesawat udara juga semakin bertambah. Bertambahnya
kebutuhan pesawat udara hendaknya juga didukung dengan pertambahan fasilitas
yang memudahkan pengguna pesawat udara. Agar suatu perusahaan pelayanan
jasa pesawat udara dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan mampu
berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi, maka PT. Lion Air
hendaknya dapat memenuhi kebutuhan konsumen baik dalam hal peningkatan kualitas
maupun kuantitas.
Untuk
itu maka pimpinan PT. Lion Air harus peka dalam menganalisis suatu masalah yang
timbul dan dapat mengambil keputusan secara tepat. Situasi ini perlu disadari
oleh perusahaan karena perusahaan tidak hanya bertugas menciptakan
produk saja, tetapi juga memberikan pelayanan-pelayanan kepada konsumen karena
banyak masyarakat yang tertarik akan pesawat udara sebagai suatu pilihan dalam transportasi yang
cepat.
Namun, pada tahun belakangan ini PT
Lion Air mendapat keluhan dari masyarakat karena berbagai kesalahan yang
dilakukan oleh pihak PT Lion Air, Mulai dari masalah bagasi,
keberangkatan dan lainnya. Hal ini tentulah menjadi perhatian kita semua,
apalagi mengenai keterlambatan penerbangan (flight delay).
Peraturan Menteri Perhubungan No.49
Tahun 2012 tentang standar pelayanan penumpang kelas ekonomi angkutan udara
niaga berjadwal dalam negeri, telah mengatur mengenai keterlambatan penerbangan
namun terkadang ada saja maskapai penerbangan tidak mengikuti aturan tersebut.
Sehingga penumpang dirugikan dengan adanya keterlambatan penerbangan.
TOPIK
A. Kasus
Lion Air
TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai Lion Air menjadi
sorotan lantaran kasus delay yang menyebabkan penumpang telantar hingga
beberapa jam atau bahkan pembatalan penerbangan yang mengganggu rencana
perjalanan ribuan penumpang pada saat hari libur Tahun Baru Cina yang terjadi
sejak Rabu (18/2/2015).
Terminal
3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, sampai diblokir massa akibat delay parah
dari Lion Air. Maskapai penerbangan AirAsia bahkan terpaksa memindahkan
penumpangnya ke terminal lain. Ini merupakan salah satu yang terparah selama
sejarah penerbangan Indonesia. Menurut perusahaan, kejadian serupa diusahakan
takkan terulang kembali.
Staf
Khusus Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hadi M Djuraid mengatakan pihaknya
telah menerjunkan pejabat untuk menemui para penumpang dan mencari kejelasan
kasus menumpuknya delay setidaknya 14 rute penerbangan Lion Air. Dari pertemuan
itu, ditemukan beberapa alasan mengapa hampir seluruh penerbangan Lion Air
mengalami delay.
Pertama,
terdapat tiga pesawat yang mengalami kerusakan, yakni satu pesawat di Semarang
akibat terbentur benda asing ( Foreign Object Damage ) dan
pada saat bersamaan dua pesawat di Jakarta tidak siap karena
gangguan teknis .
Kedua,
dilaporkan juga bahwa ada tiga pesawat lainnya yang harus maintenance
(perawatan)," ujarnya saat dihubungi, kemarin.
Direktur
urusan umum Lion Air, Edward Sirait mengatakan bahwa benda asing termaksud
adalah bulu dan tulang burung yang tersangkut di salah satu mesin pesawat.
Para
penumpang kesal tidak melihat satu pun staf di lapangan yang sanggup memberikan
kompensasi atau penjelasan. Lion Air menyampaikan permohonan maaf
sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan tersebut. Perusahaan juga siap
menjalankan Peraturan Menteri No 77 mengenai ganti rugi penumpang.
Menanggapi
masalah ini, Kementerian Perhubungan memanggil para petinggi Lion Air untuk
dimintai keterangan. Suprasetyo, direktur jenderal perhubungan udara,
mengatakan bahwa kementerian tidak akan mengizinkan Lion Air untuk mengajukan
rute baru sebelum maskapai sanggup menyusun rencana antisipasi keterlambatan di
masa mendatang.
Kementerian
Perhubungan melalui Direktorat Perhubungan Udara membentuk tim pemeriksa atas
kasus delay besar-besaran Lion Air yang terjadi sejak Rabu
pekan lalu. Tim akan memeriksa mekanisme kerja dan pelayanan Lion Air, terutama
bagaimana mereka menangani krisis akibat delay.
Direktur
Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo mengatakan pemeriksaan itu muncul
sehubungan teguran keras yang dilayangkan pemerintah kepada Lion. Dalam surat
yang dilayangkan Kementerian, maskapai ini diminta tidak mengulangi lagi
kejadian ini, terutama perlakuan Lion yang dianggap menelantarkan penumpang.
ANALISIS
Penentuan pertanggungjawaban
perusahaan penerbangan tentunya harus mengacu pada ketentuan-ketentuan yang
berlaku, sehingga dapat ditentukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, hal-hal
yang dapat dipertanggungjawabkan, bentuk-bentuk pertanggungjawaban, besar ganti
kerugian dan lain-lain. Pada kegiatan penerbangan komersil atau transportasi
udara niaga terdapat beberapa ketentuan yang berkaitan dengan tanggung jawab
pengangkut udara terhadap penumpang baik yang bersumber pada hukum nasional
maupun yang bersumber pada hukum internasional. Ketentuan hukum nasional yang
secara khusus mengatur tentang kegiatan penerbangan saat ini adalah Perjanjian
pengangkutan, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan dan beberapa
peraturan pelaksana lainnya. Sedangkan ketentuan yang secara khusus mengatur
tentang penyelenggaraan angkutan udara adalah Peraturan Menteri Perhubungan
No.77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara dan Peraturan
Menteri Perhubungan No.49 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas
Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.
REFERENSI
phietrahmi1. (2015, 06 Maret). Makalah Lion Air. Diperoleh
3 Mei 2019, dari http://phietrahmi1.blogspot.com/2015/03/makalah-lion-air.html